Rapat Evaluasi Penggunaan...
17 September 2026
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo, 16 September 2026 – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kondusivitas daerah melalui kegiatan pendampingan dan intervensi terhadap anak-anak yang terindikasi terpapar paham radikalisme. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Pepelegi, Kecamatan Waru, ini dilaksanakan bersama Densus 88 Anti Teror, aparat kepolisian, pemerintah desa, pihak sekolah, serta UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Farkhan, SH., MM., sebagai bagian dari langkah deteksi dini dan pencegahan terhadap potensi penyebaran paham radikalisme di kalangan pelajar.
Menurut Farkhan, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua maupun pemerintah. Anak-anak memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi di internet, termasuk konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.
"Banyak kasus yang kami temui berawal dari media sosial, permainan daring, hingga komunitas digital. Karena itu pengawasan dan pendampingan harus dilakukan bersama-sama, baik oleh keluarga, sekolah, maupun pemerintah," ujarnya dalam kegiatan tersebut.
Dalam pendampingan kali ini, Bakesbangpol bersama tim melakukan dialog dengan seorang pelajar berinisial H.M.L. serta keluarganya. Berdasarkan hasil pendalaman, anak tersebut diketahui aktif dalam sejumlah komunitas daring yang membahas berbagai topik terkait teknologi, permainan digital, hingga konten yang mengarah pada pembahasan radikalisme dan kekerasan.
Tim juga melakukan pendalaman terhadap seorang pelajar lain berinisial S.R.A. yang diketahui memiliki hubungan pertemanan dengan H.M.L. Dari hasil wawancara diketahui bahwa keduanya bersama beberapa teman lainnya tergabung dalam grup percakapan yang sering membahas berbagai isu yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Meski demikian, Bakesbangpol menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan bukan untuk memberikan stigma kepada anak-anak tersebut. Sebaliknya, langkah yang ditempuh adalah pembinaan dan pendampingan agar mereka dapat kembali memperoleh lingkungan yang sehat dan positif.
Dalam kesempatan itu, pihak sekolah turut menjelaskan bahwa berbagai upaya pembinaan karakter telah dilakukan kepada peserta didik. Sekolah juga terus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa serta memperkuat edukasi mengenai penggunaan teknologi secara bijak.
Selain melakukan pendampingan kepada anak dan keluarga, Bakesbangpol juga mengajak orang tua untuk lebih aktif memantau aktivitas digital anak-anak mereka. Peran keluarga dinilai menjadi faktor utama dalam mencegah masuknya pengaruh negatif dari dunia maya.
"Kadang orang tua merasa anaknya hanya bermain game atau belajar teknologi. Namun di balik itu ada ruang digital yang perlu diawasi karena anak bisa berinteraksi dengan banyak orang yang tidak dikenal," jelas Farkhan.
Berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukan UPTD PPA Kabupaten Sidoarjo, kedua anak tersebut membutuhkan pendampingan berkelanjutan dari keluarga serta asesmen psikologis lebih lanjut. Langkah ini penting untuk memahami kondisi anak secara menyeluruh sekaligus menentukan metode pembinaan yang tepat.
Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo juga mengungkapkan bahwa persoalan paparan radikalisme pada anak saat ini menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat sekitar 20 anak di Kabupaten Sidoarjo yang terindikasi terpapar paham radikalisme dan memerlukan pendampingan dari berbagai pihak.
Kondisi tersebut mendorong Bakesbangpol untuk terus memperkuat koordinasi dengan Densus 88 Anti Teror, aparat keamanan, sekolah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga keluarga. Kolaborasi ini dianggap penting agar penanganan dapat dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Selain itu, Bakesbangpol juga menekankan bahwa fenomena komunitas digital harus dipahami secara objektif. Penilaian tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan keikutsertaan seseorang dalam sebuah grup atau komunitas, melainkan harus melihat aktivitas, komunikasi, dan konten yang benar-benar dilakukan.
Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya radikalisme dapat semakin meningkat. Penguatan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta pendidikan karakter sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah berkembangnya paham ekstrem di kalangan generasi muda.
Kegiatan pendampingan dan intervensi berlangsung hingga pukul 19.15 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif. Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo menegaskan akan terus melakukan pemantauan, pendampingan, serta koordinasi dengan seluruh pihak terkait guna memastikan anak-anak yang terindikasi terpapar dapat memperoleh pembinaan yang tepat dan tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, toleran, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat